Makalah Tentang vaginitis

Post oleh : Unknown | Rilis : 22.05 | Series :


KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas limpahan-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini, Salawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabiullah SAW. Kami menyadari bahwa dengan selesainya tugas ini tidak terlepas dari berbagai belah pihak terutama Dosen Pembimbing dan teman seperjuangan. Olehnya itu terimah kasih kami ucapkan yang setinggi-tinggi kepada Beliau.
Sebagai manusia biasa tentulah dalam penyusunan tugas ini terdapat berbagai kekurangan, baik yang disadari maupun yang tidak disadari untuk itu penyusun dengan lapang dada siap menerima kritikan dan saran dari berbagai belah pihak yang telah membaca tugas ini, demi penyempurnaan dalam tulisan ini.
Akhir kata semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penyusun.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Medan, Januari 2016



penyusun




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Vaginitis adalah diagnosis masalah ginekologis yang paling sering terjadi di pelayanan primer.  Pada sekitar 90% dari perempuan yang terkena, kondisi ini disebabkan oleh vaginosis bakterial, kandidiasis atau trikomoniasis vulvovaginal.  Vaginitis terjadi ketika flora vagina telah terganggu oleh adanya mikroorganisma patogen atau perubahan lingkunang vagina yang memungkinkan mikroorganisma patogen berkembang biak/berproliferasi.  Pemeriksaan untuk vaginitis meliputi penilaian risiko dan pemeriksaan fisik, dengan fokus perhatian pemeriksaan pada adanya dan karakteristik dari discharge vagina.  Pemeriksaan laboratorium diantaranya: metode sediaan basah garam fisiologis (Wet Mount) dan KOH, pemeriksaan PH discharge vagina dan "whiff" test. Pengobatan untuk vaginosis bacterial dan  trikomoniosis adalah metronidazol, sementara untuk kandidias vaginal, pilihan pertama adalah obat anti jamur topical.
Vaginitis adalah maslah ginekologis yang paling banyak  dihadapi oleh dokter yang member pelayanan terhadap perempuan. Pembuatan diagnosis yang akurat bias sangat sulit yang menyebabkan upaya pengobatan juga kompleks. Terlebih lagi, adanya obat yang dijual bebas menaikkan kemungkinan pemberian pengobatan yang tidak sesuai untuk vaginitis.

B.Tujuan
1.Tujuan Umum
a.       Diharapkan tenaga kesehatan mampu mengumpulkan semua data fokus yang di butuhkan baik melalui anamnesa maupun pemeriksaan untuk menilai keadaan klien secara menyeluruh.
b.      Diharapkan tenaga kesehatan menginterpretasikan data dengan tepat untuk mengidentifikasi diagnosa atau masalah dan kebutuhan.
c.       Diharapkan tenaga kesehatan mampu mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensia/mungkin timbul agar dapat diantisipasi penangananya
d.      Diharapkan tenaga kesehatan mampu menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera sehinga tindakan dapat segera direncanakan untuk dilakukan tindakan konsultasi atau kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain sesuai dengan kondisi klien
e.       Diharapkan tenaga kesehatan mampu menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional sesuai langkah-langkah sebelumnya
f.       Diharapkan tenaga ksehatan mampu melaksanakan asuhan yang telah direncanakan dengan memperhatikan efisiensi dan tindakan yang aman.
g.      Diharapkan tenaga kesehatan mampu melakukan evisiensi pelaksanaan rencana asuhan.
2.Tujuan Khusus
Diharapkan tenaga kesehatan mampu melaksanakan Asuhan dengan Menggunakan SOAP yang meliput:
a)      Mampu melakukan anamnesa subyektif dengan pengumpulan data pada ibu post partum dengan Vaginitis
b)      Mampu Melakukan pemeriksaan Obyektif terhadap ibu post partum dengan Vaginitis
c)      Mampu Melakukan dan menentukan diagnosa terhadap ibu post partum dengan Vaginitis
d)     Mampu melakukan dan menentukan perencanaan dan mempu mengefaluasi ibu post partum dengan vaginitis.
e)      Mampu menyari penyebab dan cara mengatasi dari penyakit vaginitis. C.

C. Manfaat
1.      Bagi Penulis Dapat menerapkan ilmu yang telah di dapat dimeja perkuliahan,terutama yang berhubungan dengan asuhan kebidanan pada ibu nifas vaginitis.

2.      Bagi Lahan Dapat mengefaluasi kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan Vaginiti







BAB II
PENDAHULUAN


A.    PENGERTIAN
Kebanyakan wanita pemberitahuan dari waktu ke waktu bahwa mereka memiliki cairan dari vagina. Ini adalah proses normal yang menjaga daerah mukosa vagina lembab. Tetapi tidak hanya itu daerah vagina yang lembab bisa berubah menjadi sarang berkumpulnya bakteri-bakteri,jamur serta virus yang bisa dengan mudah hidup di daerah tersebut dan bisa menimbulkan penyakit,seperti yang terdapat di daerah vagina yang biasa di sebut sebagai vaginitis. Vaginitis (colpitis) adalah infeksi pada vagina yang disebabkan oleh berbagai bakteri, parasit atau jamur (Manuaba. 2001). Vaginitis adalah suatu peradangan pada lapisan
vagina.
 Vaginitis dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui luka perineum, permukaan mokusa membengkak dan kemerahan, terjadi ulkus dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus. Vaginitis di sebabkan oleh jamur dan bakteri akibat tidak bersihnya genetalia,gejala pada vaginitis biasanya di sertai keluar cairan vagina atau keputihan yang abnormal,di katakan abnormal karena keputihan tersebut sangat berlebihan berbau dan terjadi iritasi di sekitar vagina,vaginitis bisa juga di sebabkan bawaan pada saat bersalin karena kurangnya keseterilan dari alat atau dari henskun si penolong yang kurang seteril.
Sedangkan Vaginosis bakterialis diketahui kemudian sebagai infeksi superfisial pada vagina yang menyertai keadaan menghilangnya laktobasili yang normal dan disertai oleh pertumbuhan berlebihan dari mikroorganisme lain dalam konsentrasi yang tinggi.
·      Vaginosis bakterial didefinisikan sebagai suatu keadaan abnormal pada ekosistem vagina yang dikarakterisasi oleh pergantian konsentrasiLactobacillus yang tinggi sebagai flora normal vagina oleh konsentrasi bakteri anaerob yang tinggi, terutama Bacteroides sp., Mobilincus sp.,Gardnerella vaginalis, dan Mycoplasma hominis Jadi vaginosis bakterial bukan suatu infeksi yang disebabkan oleh satu organisme, tetapi timbul akibat perubahan kimiawi dan pertumbuhan berlebih dari bakteri yang berkolonisasi di vagina.
·      Vaginosis Bakterial memperlihatkan bukti bahwa penyakit ini terjadi akibat pertumbuhan hebat bakteri normal vagina. Gangguan keseimbangan pertumbuhan bakteri ini menyebabkan terjadinya fluor albus yang sangat berbau.
·      Vaginosis Bakterial adalah penyebab utama dari fluor albus akan tetapi jarang tanpa disertai keluhan lain. Vaginosis bakterial terjadi akibat digantinya mikroflora vagina normal yang “healthy” ( terutama dari jenisLactobacillus jensenii dan Lactobacillus crispatus ) oleh sekelompok mikroorganisme.
·      Bakterial vaginosis adalah sindrom klinik akibat pergantian Lactobacillus Spp penghasil hidrogen peroksida (H2O2) yang merupakan flora normal vagina dengan bakteri anaerob dalam konsentrasi tinggi (contoh : Bacteroides Spp, Mobilincus Spp, Gardnerella vaginalis, dan Mycoplasma hominis). Jadi, bakterial vaginosis bukan suatu infeksi yang disebabkan oleh suatu organisme, tetapi timbul akibat perubahan kimiawi dan pertumbuhan berlebih dari bakteri yang berkolonisasi di vagina.

B.     ANATOMI FISIOLOGI
1. Vulva
·        Vulva merupakan suatu daerah yang menyelubungi vagina. Vulva terdiri atas mons pubis, labia (labia mayora dan labia minora), klitoris, daerah ujung luar vagina dan saluran kemih.
·        Mons pubis : gundukan jaringan lemak yang terdapat dibagian bawah perut, Daerah ini dapat dikenali dengan mudah karena tertutup oleh rambut pubis. Rambut ini akan tumbuh saat seorang gadis beranjak dewasa.
·        Labia: Lipatan berbentuk seperti bibir yang terletak di dasar mons pubis.Terdiri dari dua bibir, yaitu labium mayora (bibir luar) merupakan bibir yang tebal dan besar dan labium minora (bibir dalam), merupakan bibir yang tipis yang menjaga jalan masuk ke vagina.
·        Klitoris : merupakan organ kecil yang terletak pada pertemuan antara ke dua labia minora dan dasar mons pubis. Ukurannya sebesar kacang polong, penuh dengan sel syaraf sensorik dan pembuluh darah. Organ mungil ini sangat sensitif dan berperan besar dalam fungsi seksual.

2. Vagina
Vagina merupakan saluran yang elastis, panjangnya sekitar 8-10 cm, dan berakhir pada rahim. Vagina dilalui oleh darah pada saat menstruasi dan merupakan jalan lahir. Karena terbentuk dari otot, vagina bisa melebar dan menyempit. Kemampuan ini sangat hebat, terbukti pada saat melahirkan vagina bisa melebar seukuran bayi yang melewatinya. Pada bagian ujung yang terbuka, vagina ditutupi oleh sebuah selaput tipis yang dikenal dengan istilahselaput dara. Bentuknya bisa berbeda-beda antara tiap wanita. Selaput ini akan robek pada saat bersanggama, kecelakaan, masturbasi/onani yang terlalu dalam, olah raga dsb.
Ekosistem vagina normal sangat kompleks, flora bakterial yang predominan adalah laktobasili (95%) ,disamping itu terdapat pula sejumlah kecil (5%) variasi yang luas dari bakteri erobik maupun anerobik. Ekosistem vagina yang normal mengandung 105 sampai 106 /gr dari sekresi vagina; sedangkan pada vaginosis bakterialis terjadi peningkatan sangat besar yaitu mencapai 109 – 1011/gram sekresi.
Bakteri yang normal di vagina :
Genus Laktobasilus merupakan kuman yang mampu memproduksi sejumlah asam laktat dari karbohidrat sederhana, dengan demikian menciptakan suasana asam yang mampu mematikan kuman lain yang tidak berspora.Secara morfologik, kuman ini berbentuk batang positif Gram, dan tidak bergerak. Pada isolasi primer bersifat mikroaerofilik, atau anaerob (tumbuh baik pada keadaan sedikit sekali oksigen atau tanpa oksigen). Bakteri ini pada dasarnya bersifat non patogen (tidak berbahaya).
Sekret normal vagina :
-          Berwarna jernih atau putih keruh
-          Berwarna kekuningan ketika mengering di pakaian
-          pH < 5,0
-          terdiri dari sel-sel epitel yang matur
-          sejumlah normal leukosit
-          tanpa adanya jamur Trichomonas dan tanpa clue cell\

C.    ETIOLOGI
Bakteri yang menyebabkan vaginosis bakterialis adalah :
·      Gardnerella vaginalis
·      Bakteri batang anerob gram negatif yang termasuk dalam genera
-       Prevotella
-       Porphyromonas dan Bacteroides
-       Peptostreptococcus sp
-       Mycoplasma hominis
-       Ureaplasma urealyticum dan seringkali Mobiluncus sp
Bakteri anerob inilah yang memproduksi ensim-ensim yang menimbulkan bau amis tajam pada keadaan vaginosis bakterialis, (Thomason 1991).
·       Bacteroides sp.
·      Mycoplasma hominis
Faktor resiko terjadinya Vaginosis Baterial :
1.    Pasangan seksual yang baru
2.    Merokok
3.    AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
4.    Pembilasan vagina yang terlampau sering, menyebabkan menurunnya jumlah laktobaksil penghasil hidrogen peroksida yang menyebabkan pertumbuhan berlebihan dari bakteri lain khususnya yang berasal dari bakteri anerobik.
5.    Vagina yang terlalu sering dalam keadaan lembab dan jarang mengganti celana dalam.

D.    PATOFISIOLOGI
Ekosistem seimbang pada vagina didominasi oleh bakteri Lactobacillus yang menghasilkan asam organik, seperti :
Asam laktat, seperti organic acid lanilla
a)      Berfungsi untuk memelihara pH dibawah 4,5 (antara 3,8 - 4,2), dimana merupakan tempat yang tidak sesuai bagi pertumbuhan bakteri khususnya mikroorganisme yang patogen bagi vagina.
a.       Peroksida (H2O2)
b)      Merupakan mekanisme Lactobacillus untuk hidup dominan daripada bakteri obligat anaerob.
a.       Bakteriosin
c)      Suatu protein dengan berat molekul rendah yang menghambat pertumbuhan banyak bakteri khususnya Gardnerella vaginalis.
Bila keseimbangan mikroorganisme berubah, maka organisme yang berpotensi patogen, yang merupakan bagian flora normal, misalnya C. albicans pada kasus infeksi monolia serta G. vaginalis dan bakteri anaerob pada kasus vaginitis non spesifik.
Berproliferasi sampai suatu konsentrasi yang berhubungan dengan gejala. Pada mekanisme lainnya, organisme ditularkan melalui hubungan seksual dan bukan merupakan bagian flora normal seperti Trichomonas vaginalis dan Nisseria gonorrhoea dapat menimbulkan gejala . Gejala yang timbul bila hospes meningkatkan respon peradangan terhadap organisme yang menginfeksi dengan menarik leukosit serta melepaskan prostaglandin dan komponen respon peradangan lainnya. Gejala ketidaknyamanan dan pruritus vagina berasal dari respon peradangan vagina lokal terhadap infeksi T. vaginalis atau C. albicans. Organisme tertentu yang menarik leukosit, termasuk T. vaginalis, menghasilkan secret purulen. Diantara wanita dengan vaginitis non spesifik. Baunya disebabkan oleh terdapatnya amina dibentuk sebagai hasil metabolisme bakteri anaerob. Histamin dapat menimbulkan ketidaknyamanan oleh efek vasodilatasi local. Produk lainnya dapat merusak sel-sel epitel dengan cara sama dengan infeksi lainnya.

E.     TANDA DAN GEJALA
1.      Fluor albus yang amat berbau (bau amis)
2.      Cairan vagina yang berlebih
3.      Cairan vagina pada vaginosis bakterial biasanya encer (seperti susu encer) dan berwarna keabu-abuan dan umumnya keluar pasca sanggama sehingga sering mengakibatkan masalah dalam hubungan seksual terutama pada pria.
4.    Disuria
5.    Gatal sekitar vulva dan terasa seperti terbakar
6.    Iritasi vagina
7.    Namun terkadang tidak menunjukkan gejala sama sekali.
8.    Dapat juga timbul kemerahan dan edema pada vulva
9.    Nyeri abdomen

F.     TES DIAGNOSTIK
1.    Diagnosis vaginosis bakterialis ditegakkan bila 3 kriteria terpenuhi dari 5 kriteria dibawah ini (Majeroni,1998):
·         Cairan vagina yang homogen (jumlah dan warnanya dapat bervariasi
·         PH vagina > 4.5, dengan menggunakan phenaphthazine paper(nitrazine paper).
·         Uji Amin (+)
Uji Amin (KOH whiff test) : Pemberian setetes KOH 10% pada sekret vagina diatas gelas objek akan menghasilkan bau amis yang karakteristik ( fishy / musty odor ), bau amis muncul sebagai akibat pelepasan amin dan asam organik hasil alkalisasi bakteri anaerob         
·         Terdapat “clue cell” ( sel epitel vagina yang diliputi oleh coccobacillusyang padat)
 > 20% pada preparat basah atau pewarnaan Gram.
Cara pemeriksaannya :
Pemeriksaan preparat basah;dilakukan dengan meneteskan satu atau dua tetes cairan NaCl 0,9% pada sekret vagina diatas objek glass kemudian ditutupi dengan coverslip. Dan dilakukan pemeriksaan mikroskopik menggunakan kekuatan tinggi (400 kali) untuk melihat clue cells, yang merupakan sel epitel vagina yang diselubungi dengan bakteri (terutama Gardnerella vaginalis).Pemeriksaan preparat basah mempunyai sensitifitas 60% dan spesifitas 98% untuk mendeteksi bakterial vaginosis. Clue cells adalah penanda bakterial vaginosis.

·      Tidak adanya / berkurangnya laktobasil pada pewarnaan Gram.
-       Skoring jumlah bakteri yang normal pada vagina atau vaginosis bakterial dengan
Lactobacilli
Gardnerella/ Bacteroides
Mobilincus sp
(4+) : 0
(3+) : 1
(2+) : 2
(1+) : 3
(0)   : 4
(1+) : 1
(2+) : 2
(3+) : 3
(4+) : 3
(1+)-(2+) : 1
(3+)-(4+) : 2


Skor 0-3 dinyatakan normal; 4-6 dinyatakan sebagai intermediate; 7-10 dinyatakan sebagai vaginosis bakterial.

   -       Kriteria diagnosis vaginosis bakterial berdasarkan pewarnan Gram :
·         derajat 1: normal, di dominasi oleh Lactobacillus
·         derajat 2: intermediate, jumlah Lactobacillus berkurang
·         derajat 3: abnormal, tidak ditemukan Lactobacillus atau hanya ditemukan beberapa kuman tersebut, disertai dengan bertambahnya jumlah Gardnerella vaginalis atau lainnya.

2.    Uji H2O2 :
Pemberian setetes H2O2 (hidrogen peroksida) pada sekret vagina diatas gelas objek akan segera membentuk gelembung busa ( foaming bubbles) karena adanya sel darah putih yang karakteristik untuk trikomoniasis atau pada vaginitis deskuamatif, sedangkan pada vaginosis bakterialis atau kandidiasis vulvovaginal tidak bereaksi.

G.    KOMPLIKASI
Dapat mudah terjadi :
1.      Postpartum endometritis
2.      Selulitis tumpul vagina pasca histerektomi
3.      Peradangan Panggul pasca kuretasi
4.      Plasma sel endometritis
5.      Vaginosis bakterialis juga berhubungan dengan keberadaan fetal fibronectin yang terbukti meningkatkan kejadian korioamnionitis dan neonatal sepsis.
6.      Terjadi peningkatan risiko terjadinya persalinan kurang bulan, kontraksi prematur atau kelahiran dengan BBLR
7.      Lebih mudah terjadi infeksi Gonorrhoea dan Klamidia
8.      Meningkatkan kerentanan terhadap HIV dan infeksi penyakit menular seksual lainnya.

H.    PENATALAKSANAAN
1.      Pengobatan Topikal:
-       Clindamycin (krim vagina) 5 gram waktu tidur, selama 7 hari
-       Metronidazol gel 5 gram bid waktu tidur selama 7 hari.
-       Tetrasiklin intravagina 100 mg, 1 x sehari.
-       Triple sulfonamide cream (Sulfactamid 2,86%, Sulfabenzamid 3,7% dan Sulfatiazol      3,42%), 2 x sehari selama 10 hari, tapi akhir-akhir ini dilaporkan angka penyembuhannya      hanya 15 – 45 %.
2.      Pengobatan Oral :
-       Metronidazol 500 mg selama 7 hari atau 2 gram dosis tunggal, keberhasilan      penyembuhan lebih dari 90%.  Metronidazol dapat menyebabkan mual dan urin menjadi      gelap. Jika pengobatan ini gagal, maka diberikan ampisilin oral (atau amoksisilin) yang     merupakan pilihan kedua dari pengobatan,keberhasilan penyembuhan sekitar 66%.
-       Clindamycin 300 mg bid selama 7 hari, kaberhasilan penyembuhan sekitar 94%.
     Aman diberikan pada wanita hamil. Sejumlah kecil klindamisin dapat menembus ASI,      oleh karena itu sebaiknya menggunakan pengobatan intravagina untuk perempuan      menyusui.
-       Amoksilav (500 mg amoksisilin dan 125 mg asam klavulanat) 3 x sehari selama 7 hari.      Cukup efektif untuk wanita hamil dan intoleransi terhadap metronidazol.
-       Tetrasiklin 250 mg, 4 x sehari selama 5 hari.
-       Doksisiklin 100 mg, 2 x sehari selama 5 hari.
-       Eritromisin 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari.
-       Cefaleksia 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari.

I.       PENCEGAHAN
1.      Jangan memakai celana dalam dari bahan sintetis atau celana ketat
2.      Pakailah selalu celana katun
3.      Jangan memakai panty-liner setiap hari
4.      Sesudah mandi keringkan daerah vulva dengan baik sebelum berpakaian (bisa memakai       hairdryer).
5.      Cebok dari depan ke belakang setiap berkemih/b.a.b dapat membantu mengurangi       kontaminasi mikroorganisme dari rektum
6.      Kurangi mengkonsumsi gula-gula, alkohol, coklat atau kafein dalam diet sehari-hari

J.      PROGNOSIS
Prognosis bakterial vaginosis dapat timbul kembali pada 20-30% wanita walaupun tidak menunjukkan gejala. Pengobatan ulang dengan antibiotik yang sama dapat dipakai. Prognosis bakterial vaginosis sangat baik, karena infeksinya dapat disembuhkan. Dilaporkan terjadi perbaikan spontan pada lebih dari 1/3 kasus. Dengan pengobatan metronidazol dan klindamisin memberi angka kesembuhan yang tinggi (84-96%).






11
BAB III
ASUHAN KEBIDANAN (SOAP)
Tanggal : 20 maret 2011
Tempat : Ruang pemeriksaan
Jam : 09.15 wib
SUBYEKTIF
Nama ibu :... 

































12
Nadi : 88X/menit
Genetalia : terlihat keluar keputihan/cairan kental,berbau,berwarna kuning kehijauan dan vagina
berwar... 


































Pengkajian
1.      Identitas pasien : Ny.N
2.      Anamnesis :
o  Keluhan utama :
·         Ibu mengatakan mengalami yang sangat banyak dan merasa sangat gatal di daerah vaginanyadan disertai nyeri perut bagian bawah
·         Igu mengatakan habis melahirkan anaknya yang pertama seminggu yang lalu ,dan ibu mengatakan tidak pernah keguguran
o  Keluhan tambahan : tidak ada
o  Riwayat penyakit : pernah mengalami penyakit pada kelaminnya atau tidak?
o  Adanya keputihan: ada
o  Banyaknya cairan vagina yang keluar:sangat banyak
o  Bau : mengeluarkan bau yang tak tidak sedap dan gatal serta nyeri
o  Konsistensinya:tidak ada
o  Warna : berwarna kuning kehijauan kental
3.      Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : cairan vagina yang keluar meliputi, warna, konsistensi, jumlah dan baunya.
4.      Pemeriksaan Diagnostik
a.       Pemeriksan pH dengan phenaphthazine paper (nitrazine paper).
b.      Uji Amin (KOH whiff test)
c.       preparat basah atau pewarnaan Gram
d.      Uji H2O2

A.    Diagnosa Keperawatan
1.      Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan banyaknya sekret yang keluar pada vagina dan adanya rasa gatal.
2.      Resiko infeksi berhubungan dengan banyaknya bakteri yang berkembang dalam vagina.
3.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyebab dan prognosis penyakit.




B.     Rencana Tindakan Keperawatan
1.        Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan banyaknya sekret yang keluar pada vagina dan          adanya rasa gatal.
       Tujuan                : rasa nyaman meningkat dan rasa gatal berkurang atau hilang.
       Intervensi           :
a.       Amati sekret yang keluar dari vagina (warna, konsistensi, jumlah, dan baunya ).
      Rasional       : sekret vagina dapat menandakan suatu kelainan atau keabnormalan yang       terjadi pada vagina.
b.      Mengganti celana dalam pasien jika lembab ataupun kotor, sebaiknya untuk sering      diganti.
     Rasional       : jika celana dalam lembab atau kotor dapat meningkatkan pertumbuhan      bakteri yang abnormal dalam vagina.
c.       Menjelaskan pada pasien untuk mengeringkan bagian genital bila basah atau sehabis       BAK atau BAB, misal mengelap dengan tissue atau handuk yang bersih ataupun dengan       dikeringkan memakai hairdryer.
      Rasional       : untuk menjaga bagian genital tetap kering.
d.      Berikan obat topikal sesuai indikasi, misal :
     -       Clindamycin (krim vagina)
     -       Metronidazol gel
     -       Tetrasiklin intravagina
     -       Triple sulfonamide cream
2.        Resiko infeksi berhubungan dengan banyaknya bakteri yang berkembang dalam vagina.
       Tujuan                : agar tidak terjadi infeksi lebih lanjut.
       Intervensi           :
a.       Bersihkan alat genetalia dengan teknik aseptik.
      Rasional       : agar alat genetalia terjaga kebersihannya dan tidak mengganggu       ekosistem normal pada vagina.
b.      Lakukan pemeriksaan sekret vagina yang diamati dengan preparat basah atau pewarnaan      Gram.
     Rasional       : untuk mengetahui jumlah bakteri abnormal yang berkembang dalam      vagina.
c.      Berikan antibiotik oral sesuai indikasi, misal :
       o Metronidazol
       o Clindamycin
       o Amoksilav
       o Tetrasiklin
       o Cefaleksia
       o Eritromisin
       o Doksisiklin

C.    IMPLEMENTASI
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan kepada perawat untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Adapun tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan meliputi peningkatan kesehatan atau pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dari fasilitas yang dimiliki. Perencanaan tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik jika klien mempunyai keinginan untuk berpartisiasi dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. Selama
perawatan atau pelaksanaan perawat terus melakukan pengumpulan data dan memilih tindakan perawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien. dan meprioritaskannya. Semua tindakan keperawatan dicatat ke dalam format yang telah ditetapkan institusi. Penatalaksanaan bisa dilakukan dengan cara seperti berikut:
a)      Menjelaskan pada klien tentang beberapa penyebab terjadinya keputihan adalah  jamur/bakteri (karena kurang bersih dalam menjaga kebersihan daerah kelamin), atau adanya penyakit lain (tumor).
b)      Menjelaskan kepada klien bahwa keputihan dapat terjadi itu secara normal atau tidak normal. Keputihan yang normal yaitu keputihan yang terjadi pada saat sebelum menstruasi, pada saat hamil, tetapi menjadi tidak normal jika pengeluaran lendir secara berlebihan dan terus menerus, berbau dan biasanya menimbulkan rasa gatal.
c)      Menjelaskan kepada klien tentang beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kekambuhan dari keputihan adalah:
·         Menjaga kebersihan daerah genitalia dengan baik (cebok dari arah depan kebelakang dengan menggunakan sabun).
·         Mengganti celana dalam, gunakan celana dalam yang katun dan tipis serta mudah menyerap keringat.
·         Anjurkan kepada suami untuk ikut kontrol serta meminum obat yang diberikan dokter agar tidak terjadi saling menularkan penyakit.
d)     Menganjurkan kepada klien untuk kontrol secara rutin dan menghabiskan obat yang diberikan dokter meskipun keluhan sudah berkurang.
e)      Menganjurkan pada klien untuk menjelaskan kembali apa yang telah dijelaskan oleh petugas. E.

D.    EVALUASI
1.Tingkat kenyamanan pasien kembali seperti sebelum sakit
2.Pola seksualitas dapat berfungsi secara normal
3.Tidak terjadi inveksi
4.Klien mengerti mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan

























BAB IV
PENUTUP
A.        KESIMPULAN
Vaginitas adalah peradangan yang terjadi karena perubahan keseimbangan normal bakteri yang hidup disana. Tanda atau gejala paling umum adalah munculnya cairan yang berwarna putih keruh keabuan dan berbusa serta menimbulkan bau kurang sedap. Vulvitis adalah suatu peradangan pada vulva ( organ kelamin luar wanita ). Sedang vulvovaginitis adalah peradangan pada vulva dan vagina. Vagina dikatakan tidak normal apabila jumlah cairan yang keluar sangat banyak, baunya menyengat atau disertai gatal-gatal dan nyeri. Cairan yang keluar secara tidak normal memiliki tekstur lebih kental dibandingkan cairan yang normal dan cairan vagina atau keputihan yang tidak normal cenderung berwarna kuning seperti warna keju, kuning kehijauan bahkan kemerahan.
Sebenarnya di dalam vagina terdapat 95 % bakteri baik dan 5 % bakteri jahat atau bakteri pathogen. Agar ekosisterm di dalam vagina tetap seimbang, dibutuhkan tingkat keasaman ( pH balance ) pada kisaran 3,8 – 4,2. Dengan tingkat keasaman tersebut, laktobasilus akan subur dan bakteri pathogen mati.

B.        SARAN
Penulis menyadari bahwa makalah jauh dari kata sempurna, maka dari itu bagi pembaca yang mempunyai kritik dan saran yang bersifat membangun kesempurnaan makalah ini sangat penulis harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.





DAFTAR PUSTAKA
Bobak.(2004).Buku ajar keperawatan maternitas.Edisi 4.Jakarta :ECG
Edge,V.(1993) women’s health care.VSA:von hoffman press
Manuaba, Ida Bagus.(2001).Ilmu kebidanan, Penyakit kandungan, dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan, Jakarta:ECG
Padjajaran, Universitas.(1981). Ginekologi. Bandung:Elstar Offset
Sinklair,C.C.R.,Webb,J.B.(1992)>Segi praktis ilmu kebidanan dan kandungan untuk pemula.Jakarta:Binarupa Aksara.













Other Episodes

0 Comments for "Makalah Tentang vaginitis"

Komentar - Komentar Orang